Julian Assange, Pendiri Situs Kontroversial Wikileaks

Publikasi Oleh: Portal Informasi IT dan Hacking - 02.08.00

Julian Assange, Pendiri Situs Kontroversial Wikileaks


Julian-Assange-Pendiri-Wikileaks
Disaat arus perkembangan informasi dan teknologi yang sudah tak terbendung lagi, nampaknya urusan privasi menjadi hal yang paling rawan disalah gunakan. Kini semakin mudah bagi seseorang untuk mengetahui informasi tentang suatu hal. Caranya pun tidak hanya lewat jalur legal, untuk mengakses informasi rahasia pun telah banyak cara untuk membobolnya.

Dan jika kita membicara situs yang paling fenomenal membocorkan informasi-informasi top secret dunia, tentu Wikileaks salah satu juaranya. Mulai online pada tahun 2006, situs ini rutin membocorkan banyak sekali informasi rahasia dari negara-negara tertentu dan juga institusi publik. Tujuannya? Yakni untuk memaparkan apa yang harus diketahui oleh banyak orang namun selama ini ditutupi oleh pihak tertentu demi sebuah kepentingan.
Jika berbicara tentang Wikileaks tidak akan lengkap tanpa mengulik kisah hidup pendirinya yakni Julian Assange. Perjalanan hidup yang berat serta idelisme yang sangat tinggi tentang arti “keterbukaan informasi”, menjadikan dirinya salah satu tokoh paling disoroti setidaknya dalam satu dasawarsa terakhir.




Kisah Hidup Julian Assange

Julian Assange lahir pada tanggal 3 Juli 1971 di kota Townsville, Queensland, Australia. Lahir dengan nama lengkap Julian Paul Assange, kehidupan masa kecilnya jauh dari kata bahagia. Sejak kecil ia harus menerima kenyataan bahwa orang tuanya harus bercerai. Parahnya setelah proses perceraian, ibunya menikah dengan laki-laki yang tidak baik. Jangankan mendapatkan perhatian yang cukup, ayah tirinya yang seorang musisi tersebut justru sering melakukan tindakan kekerasan pada ia dan sang ibu, Christine.
Menjelang belasan tahun, ia dan ibunya lebih memilih untuk pergi dari si ayah tiri untuk hidup berkelana. Mereka sama sekali tidak mempunyai tujuan, hanya menghabiskan waktu dan mencoba bertahan hidup. Untungnya sang ibu masih bisa mencari penghasilan, setidaknya kehidupannya masih layak. Menjalani hari hari yang sulit menjadikan pribadi Julian semakin kuat dan cenderung keras. Sisi baiknya semua kepenatan hidup tersebut dapat ia salurkan pada kegiatan yang baik yakni mempelajari ilmu komputer dan bermacam #teknologi. Tercatat ia pernah mengenyam pendidikan di beberapa universitas berbeda di Australia.
Pada usia 16 tahun, Julian sudah mempunyai kemampuan di atas rata-rata dalam hal meretas situs dan data digital. Ia bersama beberapa temannya pun membentuk sebuah jaringan hacker yang bernama Internasional Subversives. Kala itu dengan kemampuan hacking yang dimiliki, mereka bisa membobol data data rahasia dari beberapa institusi seperti bank atau perusahaan swasta. Tujuan mereka kala itu ingin memberberkan informasi-informasi rahasia yang mungkin ada kaitannya dengan kasus korupsi ataupun masalah hukum lain yang selama ini masih ditutupi.
Namun karena memang aktifitas hacking termasuk tindak cybercrime, hasilnya ia dan kelompoknya ditangkap dengan tudungan pembobolan data digital. Beruntung, ia tak sempat mencicipi jeruji besi. Ia hanya diharuskan membayar denda sebagai jaminan.

Julian Mendirikan Wikileaks

Setelah sekian lama menjalankan aktivitas hacking bersama jaringan miliknya, Julain memutuskan untuk membangun situs Wikileaks. Menurutnya Wikileaks merupakan interpretasi dari usahnya selama bertahun-tahun mengumpul berbagai data dan dokumen rahasia.
Bersama 5 orang rekan, ia mulai menjalankan situs tersebut. Sesuai dengan tujuan yang masih di pegangnya sejak dulu, Wikileaks hanya mempunyai tujuan yakni sebagai media agar dunia tahu tentang apa yang seharusnya mereka tahu. Beberapa tujuan implementatif Wikileaks yakni untuk membongkar kemungkinan tindakan korupsi, pelanggaran HAM, serta membantu pihak-pihak yang selama ini menjadi korban konspirasi negara besar atau suatu institusi.
Pernyataan yang mengejukkan pernah diungkapkan Julian. Bahwa dirinya bersama timnya telah mengantongi data rahasia dalam jumlah yang sangat besar, bahkan ia menklaim pemberitaan yang selama ini berhasil di blow up melalui media legal hanya sejumput kecil dibandingkan data rahasia hasil “jarahan” tim Wikileaks.
Sedikit contoh informasi rahasia yang telah dibocorkan oleh Wikileaks di antaranya, keterlibatan negara Amerika pada kasus Guantamo serta perang Afghanistan dan Irak. Tidak hanya “daleman” Amerika saja yang diungkap, masih banyak negara lain yang rahasianya ikut tercatut dalam posting situs Wikileaks.
Selain banyaknya pihak kontra, ternyata banyak juga pihak yang pro dengan usaha yang dilakukan Julian. Bahkan ia pernah mendapatkan penghargaan yang sangat prestisius yakni Person Of The Year 2010 dari majalah Time, serta 25 Visioner Pengubah Dunia versi majalah Utne Reader.

Kehidupan Yang Tak Pernah Tenang

Apa yang dilakukan Julian praktis ikut mempengaruhi kehidupan pribadi Julian, ia tidak pernah tinggal dengan tenang di satu negara. Beberapa tahun lalu, ia dilaporkan berpindah-pindah negara untuk menghindari kejaran pihak Interpol. Yang menjadi tanda tanya besar adalah alasan pengejaran Julian bukan karena pembuatan situs Wikileaks melainkan atas tuduhan melakukan tindakan asusila selama saat ia tinggal di Swedia.
Namun banyak pihak yang menilai bahwa tuduhan tersebut hanya sebuah rekayasa untuk membungkam Julian bersama Wikileaks-nya. Dalam sebuah kesempatan ia juga dengan tegas menyatakan tidak pernah melakukan tindakan yang disangkakan.

Apa yang dilakukan oleh Julian mungkin menjadi contoh sempurna kuatnya keyakinan seseorang pada apa yang ia percaya. Mungkin Julian Assange memilih jalan “berbahaya” dalam mencapai cita-citanya, namun setidaknya yang dapat kita contoh adalah bagaimana Julian memberikan segala yang ia punya untuk mencapai tujuan hidupnya. Bagaimana dengan kita, sudahkah melakukan usaha yang sama besar?.(Maxmanroe)

Portal Informasi IT dan Hacking
MujahidIT adalah portal IT dan informasi penting seputar teknologi dan dunia serta berita hacking.".