Password Model Baru, Identifikasi Tengkorak

Publikasi Oleh: Portal Informasi IT dan Hacking - 03.30.00

Password Model Baru, Identifikasi Tengkorak

https://i.ytimg.com/vi/BX1-RE9krSM/maxresdefault.jpg

SAARBRÜCKEN - Manusia memanfaatkan laptop dan smartphone untuk memudahkan kehidupan mereka. Untuk melindungi perangkat tersebut biasanya digunakan password.

Password pertama menggunakan PIN dan dinilai tidak aman karena mudah diretas. Ilmuwan kemudian mulai menciptakan pelindung lebih mutakhir dengan fingerprint, iris, dan wajah.

Namun ilmuwan computer dari University of Saarland dan University of Stuttgart baru saja memperkenalkan identifikasi biometric baru yang bisa digunakan dengan eyewear computer Google Glass. Biomentrik menggunakan sistem “Skull-Conduct” yang memafaatkan tengkorak untuk memberikan akses kode digital.
"Computer Eyewear seperti Google Glass telah digunakan di perusahaan dan universitas untuk membantu eksperimen fisika dan di laboratorium kimia, untuk mendokumentasikan pemeriksaan medis dan membantu dokter selama operasi," kata Andreas Bulling dari Cluster of Excellence di "Multimodal Computing dan Interaction "di Saarland University.

Untuk mengamankan data dari pencurian, Bulling dan Youssef Oualil menciptakan metode baru pengamanan. Kunci diciptakan ilmuwan menggunakan komponen yang dimiliki Google Glass itu sendiri.

Selain mikrofon mini, mereka menggunakan speaker konduksi tulang yang nyaris tak terlihat dan tertanam dalam bingkai dekat telinga kanan. Menggunakan konduksi tulang, perangkat mengirimkan suara ke telinga dalam cara yang sama seperti alat bantu dengar khusus. Ini mengarahkan getaran suara melalui tulang tengkorak di sekitar telinga bagian dalam langsung.

"Karena tengkorak bersifat individual, sinyal suara diubah dengan cara yang unik untuk setiap orang. Oleh karena itu, kita dapat menggunakannya sebagai pengenal biometrik," Bullying menjelaskan.

Para peneliti memainkan sinyal pada konduksi speaker tulang yang mencakup spektrum frekuensi yang luas. Sinyal yang dihasilkan dari tengkorak dicatat dengan built-in microphone Google Glass. Dari rekaman ini, para ilmuwan mengekstrak fitur identifikasi menggunakan algoritma khusus dan menyusun mereka menjadi semacam sidik jari digital.

Bersama rekan-rekannya, ia menamakan metode baru ini dengan "SkullConduct" dan telah diuji pada sepuluh orang. Mereka mengonfirmasi "SkullConduct" memiliki akurasi 97 persen. "Namun, kami telah melakukan tes ini di sebuah ruangan yang tidak ada kebisingan sebagai latar belakang," kata Bulling dilansir dari Science Daily, Sabtu (14/5/2016).

Sebagai langkah berikutnya, Bulling dan rekan-rekannya ingin menguji apakah metode mereka bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Mereka ingin menyelidiki rentang frekuensi ultrasound, yang akan memiliki keuntungan jika pengguna tidak mendengar sinyal. Para peneliti juga membayangkan jika metode mereka digunakan oleh smartphone.

"Jika smartphone memiliki masing-masing speaker dan microphone konduksi tulang, dan pengguna menekannya dengan kontak tulang tengkoraknya, mungkin metode ini bisa bekerja bahkan dengan ringtone normal smartphone," tutup Bulling.

Portal Informasi IT dan Hacking
MujahidIT adalah portal IT dan informasi penting seputar teknologi dan dunia serta berita hacking.".