Penggunaan Smartphone Berlebihan Tunjukkan Gejala Kelainan Otak

Publikasi Oleh: Portal Informasi IT dan Hacking - 08.53.00

Penggunaan Smartphone Berlebihan Tunjukkan Gejala Kelainan Otak

 Penggunaan Smartphone Berlebihan Tunjukkan Gejala Kelainan Otak
Sudah bukan barang baru bagi pengguna smartphone ketika menjadi sulit berkonsentrasi, kurang bergaul dengan teman di dunia nyata setelah datangnya teknologi ponsel pintar. Namun penelitian terbaru menyebutkan bahwa efek penggunaan smartphone berlebih menunjukkan gejala seperti kelainan otak pada penggunanya.

Sebagaimana dilaporkan IBTimes, Senin (16/5/2016), sebuah studi dari University of Virginia mengklaim bahwa merasuknya pemberitahuan smartphone membuat pengguna semakin hiperaktif dan bisa menyebabkan "gejala seperti ADHD (Attention Defisit Hiperaktif Disorder) bahkan di antara populasi umum".

"Kurang dari 10 tahun yang lalu, Steve Jobs berjanji bahwa smartphone akan mengubah segalanya. Dan dengan internet di saku mereka, orang saat ini dibombardir dengan pemberitahuan, baik dari email, pesan teks, media sosial atau aplikasi berita di mana saja mereka pergi. Kami sedang mencari cara untuk lebih memahami bagaimana aliran konstan dari pemberitahuan mempengaruhi pikiran kita," jelas pemimpin penelitian Kostadin Kushlev.

Menurut Kushlev, polling terakhir menunjukkan bahwa 95 persen pengguna smartphone mengecek perangkat mereka saat sedang berkumpul dengan orang lain. Satu dari 10 pengguna bahkan tak melepaskan smartphone-nya selama melakukan hubungan seks. Rata-rata, semua orang menghabiskan dua jam menggunakan smartphone mereka dalam sehari.

Untuk meneliti bagaimana efek semua arus pemberitahuan pada pengguna smartphone, 221 mahasiswa pengguna smartphone di University of British Columbia diuji selama dua minggu. Pada minggu pertama satu kelompok mahasiswa diharuskan mengaktifkan setting "do-not-disturb" dan kelompok lainnya diminta untuk memegang smartphone-nya selama mungkin dengan seluruh notifikasi yang dinyalakan.
Di minggu berikutnya, seluruh instruksi di balik dalam dua grup tersebut. Setelahnya, mahasiswa diminta mengisi survey yang memperlihatkan bagaimana terganggunya atau hiperaktifnya mereka selama penelitian dilangsungkan.

Mahasiswa melaporkan gejala yang sama dengan kelainan ADHD ketika mereka diperbolehkan menyalakan seluruh pemberitahuan dibanding ketika mereka harus mematikannya. Padahal, seluruh mahasiswa ini adalah orang normal tanpa kelainan otak. Sejumlah gejala termasuk kurangnya perhatian, hiperaktif, kesulitan fokus, mengalami kesulitan duduk diam dan gelisah.

Namun, dia menekankan bahwa ADHD bukan hanya kumpulan gejala tetapi gangguan perkembangan saraf dengan etiologi biologis. "Temuan kami menunjukkan bahwa smartphone tidak dapat menyebabkan ADHD atau mengurangi pemberitahuan smartphone tidak dapat mengobati ADHD. Temuan hanya menyarankan bahwa stimulasi digital terus-menerus mungkin berkontribusi terhadap defisit semakin bermasalah perhatian dalam masyarakat modern," ujarnya.

Ini bukan pertama kalinya studi mengenai efek smartphone pada pengguna diteliti. Pada 2015, peneliti UCL menemukan penggunaan smartphone dapat menyebabkan "inattention deafness" di mana orang menjadi "sementara tuli" karena mereka berfokus pada smartphone daripada apa yang terjadi di sekitar mereka.
(kem)

Portal Informasi IT dan Hacking
MujahidIT adalah portal IT dan informasi penting seputar teknologi dan dunia serta berita hacking.".